14 December 2012

Terjemahan PSP1800 Vol. 2


Vol. 2 / Shou (Alice Nine) x Takeru (SuG)

Mereka adalah lawan yang tepat…

Proyek ini merupakan proyek yang mengizinkan kalian buat bicara bebas selama 30 menit. Sesi pertama dilakukan bareng RUKI (the GazettE) dan Shou (Alice Nine). Ini pertama kalinya Shou bicara dengan seniornya kayak gitu, makanya dia agak merasa gugup.

Shou: Yah gitu deh (tertawa). Tapi salah seorang pasti bakalan gugup. Gimanapun juga dia adalah senior ku.

Takeru: Itu benar. Aku benar-benar menghormati RUKI, dia adalah seseorang yang mau coba ku ajak ngobrol. Apa dia menakutkan?

Shou: Nggak kok. Dia sangat terang-terangan, dan dia benar-benar orang yang baik, walaupun kayaknya aneh buat seorang junior kayak aku untuk ngomongin dia kayak gini, tapi sebenarnya dia punya kepribadian yang lucu. Sebab dia adalah orang yang tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang otoriter.

Takeru: Ya. Itu benar. Aku mengerti.

Kalian nggak sering punya kesempatan buat ketemu satu sama lain, kan? Meskipun kalian dari perusahaan yang sama.

Shou: Itu benar. Bahkan kalau kami ngelakuin hal-hal kayak even bareng, kami nggak punya banyak waktu buat ngobrol.

Itulah sebabnya kenapa kami milih Shou dan Takeru dalam kesempatan kali ini.

Takeru: Terima kasih banyak. Aku senang banget.

Shou: Aku juga. Kelihatannya dia orang yang menarik. Aku selalu ingin coba buat ngobrol bareng dia. Aku pernah sekali wawancara bareng dia dan Shin (ViViD) untuk sebuah majalah, tapi aku nggak tau banyak tentang Takeru. Aku pengen tau lebih banyak lagi tentang dia.

Takeru: Tapi Shou satu-satunya senior di perusahaan kami yang mau ngajak makan bareng keluar!

Shou: Oh, benar. Kupikir kan nggak ada salahnya, jadi ku ajak aja dan dia mau (tertawa). Tapi masih ada banyak hal yang belum ku ketahui mengenai dia, jadi aku mau gunain kesempatan ini buat ngobrol bareng dia.

Takeru: Tentu! Itu suatu kehormatan buat ku!

Shou: Aku suka sejarah, jadi kalau kita bandingkan Takeru dengan seorang tokoh sejarah, kurasa dia mirip sama Oda Nobugawa. Kalau kita bicara tentang Kou U dan Ryuu Hou, Kou U merupakan tipe orang yang memiliki kemampuan cerdas dan kepemimpinan yang baik. Meskipun Ryuu Hou tidak memiliki kemampuan, dia merupakan tipe orang yang dihormati oleh bawahannya. Kalau aku harus bilang yang mana tipe ku, aku bakalan bilang kalau aku kayak tipe yang terakhir, tapi kupikir Takeru itu kebalikan dari aku. Bener nggak? Aku adalah tipe orang yang suka ngamatin pergerakan orang lain, tapi karena Takeru orang yang berkharisma, dia mungkin tipe orang yang melakukan langkah pertama.

Takeru: Gak tau juga. Aku gak bisa benar-benar ngomong apalagi kalau yang diomongin tentang aku sendiri, tapi kupikir aku orang yang terlalu banyak make perasaan. Aku gak bisa mengekspresikan diriku sendiri, jadi akhirnya akulah yang buat langkah pertama. Pokoknya gitu deh.

Shou: Aku ahli dalam mengekspresikan diriku. Waktu aku masih kecil, aku terlalu banyak mengekspresikan wajah orang, tapi aku gak bisa ngejelasinnya dengan baik. Itulah mengapa aku selalu mikir “Apa yang harus kulakukan buat mengekspresikan ini?”. Aku juga baca banyak buku. Itulah kenapa aku ahli dalam mengekspresikan suatu hal buat orang lain.

Takeru: Itu benar. Aku gak bisa mengekspresikan sesuatu hal dengan baik. Atau lebih baik, aku nggak usah mengekspresikan diriku. Tapi waktu kamu ngelihat ke hal-hal kayak lirik, kamu bisa lihat bahwa cara kami dalam mempersepsikan suatu hal dan cara kami mengekspresikan suatu hal sangatlah beda. Dengan liriknya Shou, bukankah ada banyak perbandingan yang nggak konkret, kayak tempat? Tapi lirikku berisi lebih banyak tentang hal-hal yang konkret. Shou bilang sebelumnya kalau kami berlawanan, tapi dia bahkan mungkin merupakan orang yang paling beda dari aku diantar semua band di perusahaan kami. Meskipun gaya band kami sama sekali beda, bukankah liriknya RUKI sangatlah realistis? Dia sering nuls lirik dengan cara yang terang-terangan mengenai suatu hal yang benar-benar terjadi. Aku sering mikir kalau aku mau nulis lirik yang mirip kayak liriknya Shou, tapi aku nggak bisa nulisnya, jadi aku nganggap kalau perasaan kami ini beda. Kupikir lirik yang dia tulis itu benar-benar cocok buat Alice Nine. Lirik yang nggak mengambarkan seluruh cerita. Jadi kalau aku bandingkan musiknya Alice Nine ke dalam film, kupikir itu kayak film-film Perancis. Bahkan kalau kita gak bisa melihat seluruh hal, kita masih bisa dapetin gambaran yang jelas dari fragmennya.

Shou: Oh gitu. Mungkin emang kayak gitu. Kamu emang perhatian sama kami (tertawa)

Takeru: Tentu! Aku selalu dengerin rilisan terbaru kalian!  Aku selalu dengerin keduanya, baik itu rilisan seniorku maupun juniorku. Aku juga nonton semua video musik mereka.

Shou: Kamu demen bener, Takeru.

Takeru: Aku cuma takut aja. Kalau aku nggak banyak ngumpulin informasi, aku gak bakalan bisa ngejar ketinggalan. Ini nakutin. Aku ini seorang penakut, tau.

Shou: Kamu penakut?

Takeru: Iya, penakut banget.

Bagiku, kalian nggak kayak itu. Tapi itu nggak terduga.

Takeru: Ya, sangat nggak terduga (tertawa). Tapi aku akan ngelakuin yang terbaik buat nggak nunjukinnya, dan berani bertindak serta percaya diri (tertawa)

Shou: Aku ngerti. Itu sangat mengagumkan.

Takeru: Aku selalu menetapkan tujuan, kayak “Aku mau kayak gini pas pertunjukan one-man kali ini” atau “Aku mau pake single ini buat tracklist itu”, dan ngelakuin yang terbaik buat mencapainya, tapi aku nggak pernah bisa mencapainya. Itulah kenapa kupikir aku bisa terus berada dalam sebuah band. Kupikir bagian yang dibilang Shou demen bener tadi juga merupakan perasaan ketakutan. Apa yang buat aku mikir kayak “Bener nggak aku ngelakuinnya kayak gini?” atau “Apa yang harus kulakukan supaya bisa mencapai poin itu?” merupakan perasaan ketakutan, kayak “Aku harus ngelakuin ini supaya bisa mencapai poin itu” atau “Aku nggak bisa mencapai poin itu kecuali kalau aku bisa ngelewatin ini. Apa yang harus kulakukan…?” Kupikir bahwa perasaan takut itu sewaktu-waktu muncul menjadi sebuah keinginan yang besar.

Shou: Aku ngerti. Caraku melakukan sesuatu mengenai kegiatan band ku dengan perasaan bertanya-tanya “Gimana kehidupan yang sudah ku jalani bisa mempengaruhi seluruh dunia?”, jadi aku nggak ngalamin apa yang Takeru alamin. Tapi aku benar-benar menghargai sikap yang dilakukan Takeru. Itu suatu hal yang gak ku punya.

Takeru: Tapi orang-orang bilang kalau aku terlalu banyak mikir… Itu juga bagian dari kepribadianku…

Gimana pendapatmu mengenai Shou, Takeru?

Takeru: Nggak apa nih kalau aku ngomong bukan dari pandangan seorang junior, melainkan sebagai seorang pendengar musiknya? Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.

Shou: Nggak, nggak. Gak apa kok (tertawa)

Takeru: Walaupun Shou bilang kalau dia tipe orang yang “Nggak punya bakat, tapi dihormati oleh bawahannya”, bagiku, aku punya kesan kalau dia menjaga bandnya dengan hidupnya. Aku mikirnya kayak gitu bahkan lebih kayak gitu lagi sekarang, daripada sebelumnya. Pertama kali aku denger lagu Alice Nine tuh “Kasou Musou Shi” (sebuah mini album yang dirilis pada bulan Noveber 2005). Pada waktu itu, aku udah ngerasain pas dengerinnya di toko cd dan akhirnya aku beli.

Shou: Oh, makasih (tertawa)

Takeru: Ahahaha. Nggak, seharusnya aku yang berterima kasih. Aku selalu ngutang sama kamu (tertawa). Pastinya aku sangat tertarik sama musiknya, dan juga sama konsepnya, pencampuran antara konsep gaya Jepang dan Barat yang mereka usung. Sejak saat itu, mereka sudah menciptakan jati diri mereka sendiri, dan kupikir itu sangat menarik. Dengan nonton mereka bisa ngasih kita banyak motivasi. Kupikir band itu merupakan mahluk hidup, dan kurasa bandnya Shou benar-benar kayak gitu. Aku ngelihat kalau Shou kayak seseorang yang melihat sebuah band secar objektif, dan merencanakan program mereka. Maaf kalau kedengaran gegabah banget.

Shou: Nggak kok, aku seneng banget. Aku seneng bisa denger pendapat yang jujur ketimbang pujian yang nggak datang dari hati. Dan terakhir kemarin, aku memuji the GazettE tanpa henti (tertawa). Tapi aku cuma bisa ngomongin itu, karena aku emang bener mikirnya kayak gitu. Memuji seseorang di hadapan orang tersebut memang memalukan, tapi cuma bisa ngomong kayak gitu justru karena kupikir the GazettE emang bener-bener band yang keren. Aku bukan tipe orang yang bisa ngomong bohong. Aku suka apa yang dibilang Takeru karena dia gak bisa bohong. Kupikir itu menakjubkan pas dia ngomong secara langsung.

Takeru: Terima kasih banyak. Aku sering dikritik karena ngomong blak-blakan (tertawa). Aku juga ngomongin sesuatu hal yang bikin orang yang denger jadi khawatir… Aku cuma gak bisa mengekspresikan diriku dengan baik.

Shou: Itu karena kamu sangat blak-blakan makanya jadi target kritikan. Kupikir itu adalah bukti betapa banyaknya orang yang merhatiin kamu, Takeru. Itu merupakan hal yang bagus. Aku selalu ngomong tentang suatu hal dengan cara berputar-putar, makanya aku gak terlalu banyak dapat kritikan (tertawa)

Takeru: Ahahaha. Itu benar (tertawa). Terima kasih banyak. Aku senang kamu ngungkapinnya dengan sangat baik. Kamu bilang kalau kamu selalu baca buku, ngomong-ngomong buku jenis apa yang kamu baca?

Shou: Aku banyak baca karyanya Agatha Christie. Ini kayak melarikan diri dari kenyataan. Aku suka dunia imajinasi. Aku juga sering baca karyanya Edogawa Ranpo sama karyanya Miyazawa Kenji. Aku suka hal-hal yang abstrak. Aku suka misteri dan fantasi.

Takeru: Aku ngerti banget kenapa kamu suka Agatha Christie sama Edogawa Ranpo. Aku juga bener-bener suka karya Edogawa Ranpo.

Shou: Benar. Huh? Itu mengingatkan ku, kamu bener-bener gak bisa mencoba bikin aku tenang hari ini (tertawa).

Karena kalian nggak terlalu formal hari ini (tertawa). Aku ketemu RUKI abis obrolan kalian berdua tadi, dan reaksinya kayak “Part berikutnya bareng Shou dan Takeru, kan?” Bilang ke aku Shou ngomong kayak gimana (tertawa)!” Dia beneran pengen tau (tertawa)

Shou: Jangan, jangan, jangan, tolong jangan (tertawa). RUKI sama aku terlibat obrolan tentang “generasi care-free” (tertawa)

Takeru: Semua orang bingung sama “generasi care-free”. Kupikir itu kayak pas orang tua kita ngomong “Kami akan ngasih kamu fleksibilitas, jadi gunakanlah fleksibilitas ini”. Kupikir orang-orang yang bisa make fleksibilitas ini secara tepat adalah orang-orang yang berkepala dingin.

Shou: Tentu saja. Itu benar.

Takeru: Tapi kupikir sudah banyak perubahan yang terjadi selama generasi kita. Ini sama dengan “generasi care-free”, tapi dengan popularitas ponsel yang cepat. Kita bisa ngerasain nilai-nilai yang ada dalam masyarakat berubah pada tingkat yang luar biasa. Itu sangat menakutkan.

Shou: Itu benar. Ini nggak kayak kita gak tau perubahannya, tapi cara kita memandang sebuah perubahan itu tergantung dari apa yang kita alami pada saat itu.

Takeru: Itu benar. Perubahan itu terjadi waktu aku masih seorang pelajar, atau lebih bagusnya, waktu aku masih anak-anak. Janjian buat ketemuan dengan seseorang tiba-tiba berubah dari ngasih tau mereka secara langsung dengan ngasih tau mereka via e-mail. Sekarang, bahkan kalau kita terlambat, orang-orang bakalan maafin kita.

Sekarang kalian bakalan dimaafin bahkan kalau kalian terlambat?

Takeru: Ya. Ketika ada hal-hal kayak ponsel, kita harus ketemu pada waktu yang udah disepakatin atau yang lain. Tapi sekarang ponsel udah populer banget dan sekarang kita bisa ngirim e-mail, kalau kita ngirim e-mail trus bilang “Maaf, aku mungkin datang agak telat”, mereka nggak akan keberatan.

Shou: Yah kalau kamu bilang sekarang kayak gitu, itu benar (tertawa). Aku punya ponsel pertamaku waktu aku masih SMA, tapi sebelum itu, kita nggak tau harus ngapain kalau orang yang mau kita temuin nggak datang tepat waktu (tertawa).

Takeru: Aku tau, kan? Itu adalah waktu dimana kita bisa melihat banyaknya perubahan yang terjadi selama setengah tahun, jadi itu sangat menakutkan.

Shou: Kamu juga bisa merasakan kalau gaya hidup sekarang sudah berubah.

Takeru: Ya. Seseorang yang lahir tiga tahun setelah kita sudah memasuki era digital! Laju perubahan di dunia ini benar-benar sesuatu yang beda!

Shou: Aku bakalan kaget kalau bicara sama orang yang lebih muda trus mereka bilang mereka nggak tau “Dragonball” itu apa (tertawa)

Takeru: Ahahaha.

Shou: Aku bakalan kayak “Kamu kenalan dulu sana sama “Saint Seiya”  dan “Dragonball”…” (tertawa). Apakah seseorang tau “Dragonball” atau nggak, mungkin bisa jadi indikasi yang baik apakah aku mau berteman sama mereka atau nggak (tertawa)

Jadi sekarang sudah hampir 30 menit. Kenapa kalian nggak bikin janji satu sama lain?

Shou & Takeru: Eh?! Janji?!

Takeru: Nempatin orang di tempat yang sama lagi (tertawa)

Shou: Kami belum siap kalau urusan itu (tertawa). Ah, benar! Gimana kalau lain kali pas kamu belanja baju atau sesuatu, biarin aku yang ngebawain belanjaan kamu (tertawa)

Takeru: Apa?! Aku nggak mungkin ngebiarin kamu ngelakuin hal itu!  Aku gak bisa bikin janji kayak gitu!

Shou: Soalnya aku nggak bisa pergi belanja kecuali kalau sendirian. Jadi itu bakalan kayak praktek lari. Aku tipe orang yang nggak bisa pergi belanja sama orang lain.

Takeru: Ah! Aku juga! Aku harus pergi sendirian dan fokus atau apa gitu.

Shou: Benar. Aku ngerti banget perasaan kamu, jadi kita nggak bisa pergi shopping barengan. Aku cuma mau lihat hal-hal apa aja yang bakalan kamu beli, jadi biarin aku ngebawain belanjaan kamu (tertawa)

Takeru: Whoa~. Itu janji yang sulit untuk dibuat…

Trus kenapa kamu nggak ngajakin Shou belanja kapan-kapan, Takeru?

Takeru: Aneh tau! *karena Shou adalah seniornya*

Shou: Ahahaha. Tolong selesaikan obrolan kita dengan kalimat itu (tertawa)

Takeru: Nggak, nggak, nggak (tertawa). Makasih banyak buat hari ini!

Shou: Sama-sama. Ini sangat menyenangkan. Ayo kita makan diluar lagi lain kali. Makasih.

Bagian keempat bareng Takeru (SuG) dan Hiroto (Alice Nine)

cc: oricon
Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh aliceinrainbows

No comments: